Friday, July 22, 2016

Intermezzo: Danilla

Kemudian timbullah kebencian yang sangat besar 
pada Amnon terhadap gadis itu, 
bahkan lebih besar benci yang dirasanya kepada gadis itu 
dari pada cinta yang dirasanya sebelumnya. 
Lalu Amnon berkata kepadanya: "Bangunlah, enyahlah!" 

*Kalo mau setel lagunya, matiin dulu lagu background di kiri atas hehe.

Biasa, musik indie sebagai alternatif buat cari variasi kalo band lokal. Gada yang salah sih, cuma harus sabar aja musik juga kaya pohon sebaiknya jangan cangkokan. Kali ini indie tentang Danilla, jazz sok tua wkw.

Sebenarnya tidak terlalu menarik untuk lagu-lagu yang lain kecuali Junko Furuta. Penulisannya cukup jujur dibanding lagu-lagu cinta tulisan dia (dan gitarisnya bang Lafa) yang lain menurut saya. Begini reviewnya:

Pemahaman tentang lagu Junko Furuta oleh Danilla di mulai dari denger sekilas musiknya yang dominan "pahit" seperti musik soul pada umumnya (mungkin salah dalam pengistilahan). Udah denger tapi belom ngerti.

Lanjut telisik makna judul, di mana tadinya saya kira ini cover lagu Brazil gitu. Penelusuran awal menghasilkan penemuan tentang korelasi erat tentang cerita sadis dari kisah nyata. Ternyata Junko Furuta adalah siswi SMA di Jepang yang disiksa sampai mati mengenaskan sekelompok cowok selama 44 hari untuk keinginan seks (secara umum ini kekejaman, tapi anehnya banyak dihubungkan cerita setan padahal jelas-jelas poinnya amoralitas, bukan mistisme).

Cerita Junko yang detail googling sendiri, banyak. Kembali ke lagu, Junko Furuta menurut saya ditulis dari rasa simpatik terhadap Junko (apalagi yang nulis cewek). Di satu sisi ini semacam menunjukan pembelaan terhadap korban nafsu laki-laki, dan perlawanan terhadap pelaku. Kalo dibikin bahasa aktivis mungkin bunyinya: Junko tidak pernah mati! Ya, ini "kebangkitan" Junko dari kubur (dalam arti semangat dan simpatisme dari dan terhadap dia).

Saya kemudian simpatik karena latar belakang penulisannya.

Jernih dihubungkan ke musiknya di satu sisi ini jadi kayak suara Junko dikuping kita. Nadanya yang (duh saya bingung tapi paham ini semacam genre blues2 gitu) soulful, jadi ungkapan elegis, juga ingin menyadarkan calon-calon pelaku berikutnya, bahwa nafsu cinta (lust) ini dilihat dari kacamata yang jernih sebagai sesuatu yang pahit. Kemudian, romantisme yang nyata adalah ketika seks menjadi sangat tidak menarik dan dibenci (mungkin secara keseluruhan salah, tapi tetap ada poin benernya).

Jujur lagu ini menyelamatkan lanjutan 1 minggu setelahnya pada masa liburan kuliah saya, di mana tidak ada "kebejatan virtual".


Berdasarkan kalimat berikutnya,
Sebenarnya Tamar bersedia dan Amnon yang menolak
Mungkin Amnon merasakan sesal dan pahit itu, bahkan lebih dari Tamar

Monday, July 11, 2016

Intermezzo: Tohpati

Karena semua orang tahu Sangkuriang memang tidak pernah punya kesempatan
Dan 1000 candi semalam bahkan tidak mungkin hampir


Oke, kalo kalian buka blog ini mungkin seringkali bingung dengan lagu yang terputar dengan sendirinya. Kemudian akan muncul beberapa intepretasi seperti saya sendiri yang bikin lagu ini (pede), ini lagu band indie, atau malah mikir ini ngambil buat soundtrack template dari video editor. Jadi, itu semua salah, lagu tersebut adalah lagu buatan satu dari 3 dewa gitar* Indonesia: Tohpati

Kenapa senior? Coba aja googling, beliau diakui sebagai gitaris bahkan sebelum Engkong bisa baca tulis. Lengkapnya bisa cek Wikipedia. Beliau adalah pengisi sebagian besar musik-musik latar yang ada di TV, termasuk adegan kaget di sinetron, atau musik untuk sekedar pembuka acara anak-anak jaman dulu (jaman TVRI, sampai RCTI mungkin). Beliau sangat tidak asing untuk kuping mayoritas rakyat Indonesia, tapi sebagian tidak sadar walaupun jelas tidak asing dengan apa yang beliau mainkan.

Sekarang kita ngomongin style musik. Sebagai "dewa" gitar sejak umur 14 tahun (mengacu pada gelar "Gitaris Terbaik" pada Yamaha Band Explosion tingkat Nasional), Tohpati pasti punya latar belakang musik yang terkaji. Sebagai musisi yang "sekolah", jelas wawasan musik condong ke musik-musik les-lesan (baca: klasik), di mana scale-scale yang dipake juga banyak dan berdasarkan teori yang dipahami sebelumnya (ya, pengamatan Engkong).

Ketika kita mengkotakan genre, Tohpati jelas secara praktis bisa dikatakan bukan rocker, bukan anak reggae (gak keliatan mabok ganja wkw), dan bukan anak hip-hop. Gaya musik Tohpati termasuk anti-mainstream, karena dia tidak sok anti-mainstream yang sedang mainstream sehingga tetap memilih untuk mainstream (haha). Intinya dia menjadi dirinya sendiri, makanya gak kaget dengan hasil komposisi yang padat, yang emang hasil konsistensi dari kecil, bukan garapan asal jadi semalam.

Jika Sangkuriang berpikir jernih dalam hening
Seharusnya bukan saja ia bisa secara dewasa memahami keadilan "hukum proses"
Namun juga menyadari cintanya pada Sumbi ada sejak dalam rahim