Thursday, March 9, 2017

Intermezzo: Joe Pass

Np: Georgia - Joe's Blues

Saturday, March 4, 2017

Etimologi: Sundal

Now they call it 'sex', campaign about 'make love' and praise sexiness. But originally it was called 'lust', and it far unconnected from what 'love' can defined.

Kisah ini diawali raja yang menjadi kaya dan menguasai bumi, namun tidak mampu meredam nafsu binatangnya terhadap peremuan. Ini sepenuhnya catatan sejarah dan bukan manifestasi dewa sehingga label cacat tidak menjadi masalah.

Oke paragraf atas masih opening.

Opini kali ini tentang skeptisme saya tentang istilah seks dan bercinta. Menurut saya penggunaan istilah ini sudah tidak kontekstual secara etimologis. Seks secara umum bicara soal kelamin, gender, dan ini sangat luas. Bercinta, dari kata cinta, juga luas bisa wujud cinta pada orang tua (filia), teman (storge), kekasih (eros), bahkan konsep Tuhan dalam spiritualitas (agape).

Kemudian praktis seks malah jadi topik semua yang berhubungan dengan birahi, sedangkan bercinta jadi khusus aktivitas perkelaminan. Saya rasa harusnya istilah seks dan bercinta tidak digunakan di sini, terlebih kalau tujuannya memerangi budaya free-sex-before-marriage yang di Indonesia kita pahami sebagai perzinahan atau persundalan.

Penggunaan kata sundal yang praktis menegatifkan segala hal berbau porno baik eksplisit (senggama, dsb) maupun yang implisit (penggunaan busana yang mengisyaratkan ketelanjangan, dsb). Sejatinya ini bukan upaya mematikan naluri, melainkan merapihkannya ke konteks yang tepat.

Sama kayak alkohol, kontrol terhadap persundalan dan pelacuran (baik yang bayar maupun yang gratis) saya rasa perlu ditegaskan untuk diletakan pada posisi terlarang. Alkohol dalam ranah yang benar (medis, penelitian, dsb.), benar, tapi perlu ditegaskan penggunaannya agar tidak merusak masyarakat.

Pada akhirnya, saya berpendapat harusnya 'seks-bebas' diganti dengan 'sundal' (karena fokus ke topik hubungan kelamin lawan jenis secara fisik) dan 'bercinta' diganti 'senggama' (karena ungkapan nafsu yang spesifik secara fisik). Bahkan tegas me-label mereka yang berpakaian (bahkan bertutur) semi-telanjang dengan orientasi keindahan, selayaknya sebagai 'pelacur', 'wanita sundal', atau 'bejat', sebagaimana kesesuaian makna secara etimologi. Saya harap ini menjadi upaya tegas membongkar green label dari bisnis prostitusi yang perlu diregulasi karena bahayanya yang setara alkohol, dan pemurnian bahasa terkait makna seks dan bercinta yang sesungguhnya.