Saturday, February 25, 2017

Perihal Makan dan Lapar

Setelah 2,7 tahun saya hidup di Jogja
Nge kos
Saya baru sadar

Ternyata rasa lapar itu ada

Dulu waktu kecil saya kira rasa lapar itu tidak benar-benar ada
Saya tidak terlalu memikirkan makan
Karena ibu saya selalu menyediakan minimal 2x (seringnya 3x) sehari
Sehingga saya jarang menyempatkan berpikir tentang makan

Saat awal saya di Jogja, saya juga tidak memperhatikan makan
Lama-lama terasa, lemas kalo ga makan
Saya akhirnya berusaha makan tepat waktu
Dan rutinitas makan mulai mendapat tempat dalam ruang pikir saya

"Ia" mengambil tempat yg cukup besar
Sehingga saya terganggu
Kalau saja manusia bisa hidup tanpa makan
Mungkin "ia" adalah faktor yg cukup dominan terhadap ketidak-produktifan masyarakat

Sebenarnya sepertinya ini cuma contoh kasus
Nyatanya hal yang lebih general menjelaskan secara lebih luas n mendasar
Sepertinya
Sebuah penemuan yang tidak jelas tapi menarik bagi saya

Menjadi Bijak?

Menjadi bijak adalah sadar jika hidup memang tidak akan semenyenangkan itu
Dan tidak lagi berusaha dan memaksa untuk menyenangkan diri
Selalu menantikan akhir hidup tanpa ragu
Karena ternyata rest area bukan tempat tinggal

Di rest area akan ada tempat parkir untuk setiap pengunjung
Ada kontak mata dan fisik dengan orang asing
Tapi semua seperti kilat, kemudian ada yang datang lagi atau pergi
Tidak ada yang berlama-lama di rest area

Kalau ada yang sangat serius tentang rest area
Adanya anak-anak yang dalam perjalanan menghilangkan bosan dengan khayalan
Kadang mereka kira sudah sampai di tujuan
Kemudian begitu serius mengamati dan mempelajari rest area

Hidup seperti mimpi
Entah benarkah ini rest area
Yang pegang setir mobil (entah siapa) tak mau banyak bicara, saat parkir mobil di sini
Padahal aku yang masih kecil duduk di belakang sambil bertanya-tanya

Malam hari di depan smartphone
Sabtu 25 Feb 17
Saat malam begitu panjang

Tuesday, January 17, 2017

Waktu yang Tepat untuk Buang Buang Waktu

Gratitude is the key

Hampir genap 1 bulan, nanti tanggal 20 pas kegiatan ini berakhir. Kemudian saya mengingat-ingat masa-masa kemarin, di mana pernah terjadi situasi "buang buang waktu" yang sama dalam berbagai durasi. Pernah 1 jam perkumpulan, acara sehari, 2 atau 3 hari acara, program 6 bulan, pengabdian 1 tahun, masa 3 tahun, bahkan banyak ragam masa lain. Di masa itu, entah benar-benar buang buang waktu atau engga, saya merasa buang buang waktu.

Di satu sisi ini kesalahan pribadi, mungkin kecerobohan. Kemudian terbersit kutipan: "Manusia diijinkan untuk berbuat salah, agar mereka bisa belajar memperbaiki kesalahan tersebut" dari channel TV lokal berbasis konfusius (kutipannya agak beda, intinya itu). Tapi di sisi lain rasanya ini adalah kesalahan konyol, di mana buat counter-nya, TV yang sama bilang "Belajar dari kesalahan sendiri itu baik, tapi belajar dari kesalahan orang lain lebih baik".

Kemudian saya berusaha untuk "bersyukur" saja (sebenernya semua kata-kata di sini rasanya perlu dikasih tanda kutip, di mana penekanan positif atau negatif saya pun bimbang). Ini proses belajar, ujian dari Tuhan, untuk bersabar, sehingga ada kesempatan belajar ya kita berterimakasih padaNya. Di sisi lain, ini bisa jadi "hukuman" dari Tuhan, jadi saya harus sadar dan memberontak dari kesalahan diri sendiri.

Cerita mimpi selama di sini:
Entah mungkin penting atau enggak, saya pengen semuanya diingat

1. Perkumpulan agama biasa, dicampur sama sensasi gereja masa kecil (TK, SD).
Ini intimidasi masa kecil aja. Menarik karena perasaan buang buang waktunya juga mirip dalam perwujudan lain. Didominasi diam (meskipun di sisi lain ini emas).
2. lupa (masih inget pas tanggal 17)
3. Mimpi jalan-jalan di gedung SD malem-malem berduaan (tapi bukan sama temen SD). Hampir ml di wc tapi pas masuk banyak sayuran mentah lagi dipotong, trus dateng petugas kebersihan sambil nuduh kita, tapi lolos.
Di sini ada rasa mirip masa-masa melawan pornografi. Bahkan ada adegan di mana ada omongan: "udah jangan dah gak baik" yang kemudian dilanjut "tapi yaudah gapapa".
4. lupa (masih inget pas tanggal 17)

Ada rencana untuk "buang buang waktu" lagi sih. Sebagaimana dulu aku daftar Pramuka waktu SD, dateng tiap hari jumat sore, dan ngorbanin kesempatan ikut tim olimpiade matematika karena komitmen ke Pramuka (yang bahkan anggotanya <20). Ini terjadi lagi di hari hari depan kemudian lagi, dengan berbagai durasi waktu yang berbeda.

Mungkin konotasi "buang buang waktu" terlalu negatif, misalnya "buang buang waktu" ikut ekskul pramuka. Coba kalo kita liat baiknya, positifnya, atau in the simplest way 'enaknya' (yang enak seringkali mudah terhubung ke dosa/tidak sehat, dsb. Tapi juga di sisi lain jadi indikasi kebahagiaan). Mungkin ekskul pramuka meningkatkan social skill yang gak didapet di tim olim mtk (yang jelas memberi tantangan lebih kecil karena anggotanya <20).

Konsep ini semacam "melupakan yang kita inginkan untuk mendapatkan