Jumat, 21 Maret 2014

Sok Suci

Kau dan aku suatu saat tidak akan menderita begini terus
Kita akan di tempat orang-orang yang menang, atau kalah
Karena bumi yang kita pijaki ini tempat menderita, tempat untuk menerima sengsara bukan bahagia





"Orang yang tidak nyontek adalah orang yang sok suci", -orang bijak


Ya, bisa jadi saya termasuk yang 'sok suci'. Saya terima, saya memang cuma sok suci, saya bukan orang suci. Implikasinya berarti selama ini saya meng-klaim diri saya tidak nyontek? Ya begitulah, 3 tahun terakhir ini memang saya berusaha untuk menunjukan saya tidak mau nyontek (walaupun prakteknya ya saya secara tidak sengaja kecipratan juga, dan kadang masih ikut juga kalau terang-terangan gurunya yang ngasih soal, ya saya salah seorang 'sok suci'-ers kelas teri wkwk)

Tapi kasih saya kesempatan untuk sedikit bela diri dari citra negatif dari si orang bijak di atas, saya mau kampanye supaya kita semua berani untuk jadi orang sok suci. Menurut saya tidak ada yang salah dari sok suci yang pada hakikatnya adalah usaha untuk menjadi lebih suci (ya bisa juga dibilang lebih baik). Resikonya memang bisa jadi kita terdengar munafik. Tapi selama pada kenyataannya tidak ada yang kita tutup-tutupi ya berarti sebenarnya kita tidak munafik, cuma mencoba menjadi orang yang lebih baik.

Oke, jangan diruwet-ruwetin, lanjut.

Sekarang saya mau kampanye untuk kita semua berani mencoba jadi sok suci dengan tidak nyontek (respon: wah gila! susah lah). Jangan dengerin respon di dalam kurung, dengerin dulu alasan saya. Ada beberapa keuntungkan yang bisa kita dapat dari tidak nyontek (ini serius). 

Satu, dengan tidak nyontek prestasi akademis anda bisa meningkat drastis (mungkin kedengerannya terlalu mengada-ada, tapi survei membuktikan anak-anak yang punya predikat 'pintar', berprestasi. atau sekarang ada di PTN favorit mungkin juga ikut memberi contekan, tapi mereka jarang mau untuk bawa kertas/buku contekan, walaupun itu bisa mendongkrak nilai mereka).

Dua, Tuhan sayang orang-orang yang sok suci. Meskipun ada 'sok'-nya, tapi sok suci ini merupakan usaha untuk menjadi berkenan pada-Nya, dan saya rasa Dia sangat menghargai usaha kita ini (ini masalah kita sama Dia, jangan dengerin kata orang-orang karena gak ada hubungannya). Keuntungannya? Gila, orang yang disayang Tuhan apa aja yang diperbuat di hidupnya pasti berhasil!

Yang kedua tadi udah kesimpulan sih sebenernya. Faktor Tuhan (ini dakwah nih, dengarin, dakwah itu baik untuk hidup), ya faktor Tuhan gak bisa disandingkan dengan faktor nyontek. Ibaratnya kalo di papan catur (gak ngerti catur, gapapa denger aja) misalnya nyontek itu Benteng yang poin-nya 5, atau Menteri yang poin-nya 10, faktor Tuhan itu adalah raja yang poinnya 200! Pernah main catur kan, tau kan kalo raja dimakan berarti kalah? Ya gitu, jangan dibandingin, terlalu jauh.

Percaya aja dah, emang ini gak logis. Minimal buat UN ini, asal mau tahu aja, mereka yang dapet PTN favorit, atau mungkin gak dapet tapi sukses pas kerja, adalah mereka yang menerapkan prinsip 'sok suci' alias 'tidak nyontek' ini. Emang gak bisa dijelasin pake logika, gak usah pake logika lah kalo ngomongin Tuhan, udah percaya aja.



Seperti Daud yang terus memuji dan menyembah-Nya
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air
yang mengasilkan buah pada musimnya, dan tidak layu daunnya
apa saja yang diperbuatnya berhasil

Sabtu, 07 Desember 2013

Ada yang Aneh di Lagu, Film, Novel, dan Lainnya

Ah, tidak juga masa remaja seperti katamu
Suka pesta, berpacaran, pesta, dan bergaya
Nyatanya kita tidak suka, dan tidakan benar-benar akan suka
Bukankah rasanya kosong, hampa, dan sia-sia saja sebenarnya?


Berhubung ujian baru habis, mayoritas anak SMA sekarang jelas lagi sibuk-sibuknya cari pelampiasan. Ya maklum, dah seminggu disiksa buku kertas dan soal wkwk. Hiburannya gak jauh dari main, nonton, futsal, dengerin lagu, atau baca novel. Nah, kita tarik garis ke hiburan-hiburan ini (khususnya di nonton, lagu, sama novelnya dulu), bos-nya nih blog menemukan suatu pemikiran menarik tentang hal ini...

Jadi, film, novel, lagu, dll. itu ada satu kesamaan. Seperti yang kita ketahui bersama, ternyata temanya selalu 'cinta'. Lagu genre pop, jazz (sebenernya groove), RnB, disco, sampe metal, temanya sama aja: 'cinta'. Film dari tokoh anak sekolahan, kuliah, kantoran, anak band, sampe superhero, inti ceritanya balik-balik 'cinta-cintaan' juga. Novel juga sama begitu. Pertanyaannya kenapa harus tema 'cinta' semua seakan-akan 'cinta' ini mau dijadiin ajaran, dijadiin agama buat kita.

Ya, gak salah 'cinta-cintaan'. Tapi di film dan berbagai lagu, pesan ini diulang-ulang, digambarkan begitu penting sampai mendorong tokohnya untuk memikirkan hal tersebut siang malam, dijadikan obsesi, cita-cita, tujuan hidup.. terlalu penting rasanya

Contoh ada pernyataan seperti, "cinta adalah segalanya", atau "kaulah alasan tuk ku hidup", dan sejenisnya. Agak serem, cinta hadir dalam perwujudan seperti agama, dengan si pasangan sebagai Tuhan nya.

Sekedar meluruskan cara berpikir yang mungkin kebanyakan dari kita salah. Apa sepenting itu 'cinta' terhadap pasangan. Bukannya 'cinta' itu salah satu nafsu manusiawi seperti nafsu untuk punya uang, makan dan lainnya, yang bahaya kalau kelebihan apalagi jadi tujuan hidup. Bayangin orang tujuan hidupnya untuk makan, aneh kan? Makan emang perlu, tapi makan kan bukan tujuan hidup.

Ayolah, jangan sampai kita jadi abnormal gara-gara persepsi yang salah untuk mengartikan film, novel, dan lainnya yang bukanlah Kitab Suci. Gak perlu rasanya 'cinta' itu mendominasi pikiran kita, obrolan sama temen kita, atau renungan pagi dan sebelum tidur kita. Secukupnya aja dipandang sebagai salah satu kebutuhan hidup, bukan tujuan hidup.


Baru sekitar 2 minggu
Setelah masa remaja baru dijajaki