Senin, 13 April 2015

Sebuah Korelasi: Antara Kisah "Sun Go Kong" dan Amer*can Pie

Lex III: Actioni contrariam semper et æqualem esse reactionem: sive corporum duorum actiones in se mutuo semper esse æquales et in partes contrarias dirigi.

Abis nonton Amer*can Pie, beberapa minggu yang lalu. Sangat elegan dan menarik mengemas hiburan dalam kerangka filosofi, jadi senengnya dapet, nilai-nilai kebaikan dan prinsip di dalamnya juga "rasanya" ada. Secara sederhana Amer*can Pie terasa seperti sajian menyenangkan, entertaining, dan mengandung nilai kebenaran di dalamnya. Kemudian just too good to be true, rasanya ada yang salah.

Baik kita datang ke tokoh utama, Jim Lev*nstain, seorang "bos" di geng-nya, seorang remaja laki-laki "normal" dengan libido yang menggebu-gebu. Digambarkan sebagai remaja yang dinamis, jujur apa adanya, polos, dan punya sejumlah petualangan menarik dalam hidupnya. Jim bisa dibilang tokoh yang ideal, dia mendapatkan "kebahagiaan-kebahagiaan" yang "normal" di masa mudanya dengan baik dan hidupnya sangat menarik, dan kemudian menjadi hidup yang jelas di-idam-idamkan remaja laki-laki lain.

Jim bahkan dapet perempuan yang dia idam-idamkan. Kehidupannya sungguh cantik dan menarik untuk diteladani. Jim menjadi tokoh yang apa adanya dan tidak membohongi dirinya sendiri dengan apa yang ada padanya. Ia menjadi tokoh yang mendapatkan implikasi yang menabjukan sangat indah, dari sikapnya yang terus terang, termasuk terus terang kalau ia gila sex (yang "normal").

Sayang, ini kan film, coba beneran. Rasanya terlalu indah untuk dibilang bener, just too good to be true. Ada nafsu seks yang "normal", dilampiaskan sebebas-bebasnya, dan tetap masuk kerangka "normal", plus implikasi positif dan hidup yang indah. Film yang manis, tapi terasa terlalu manis, gak enak buat dipandang sebagai kenyataan, apalagi diambil jadi pedoman hidup (padahal sekilas ini logis dan menarik haha).

Saya lebih suka kisah "Sun Go Kong". Saya bisa liat perwujudan Jim yang lebih jelas, yaitu di mana Jim ada di satu tokoh yang sangat jelas terlihat. Ya, yaitu Jim yang diwujudkan sebagai manusia babi, Chu Pat Kai. Persis kita bisa lihat Jim di sini, Jim yang sangat suka wanita, Jim dengan libido seks yang tinggi, dan Jim yang selalu puas oleh perempuan-perempuan dan suka mabuk untuk just have fun. Jim adalah Pat Kai, yang "terus terang" dan "jujur" kalau "aku suka wanita". Jim dan Pat Kai mau mengakui kalau itu alamiah, dan kemudian berpikir "ah yaudah lah, ini normal". Pat Kai menjadikan "kemanusiaannya" (babinya?) pedoman hidup, yang membawa dia jadi sebagaimana Chu Pat Kai, sebagaimana juga rasanya Jim.

Ini implikasi yang logis, dan rasanya cocok untuk nemenin film Amer*can Pie yang emang lumayan bikin pusing. Untuk jadi "pedoman hidup"?, teladan?, rasanya kisah ini jadi bahan referensi yang bagus untuk mempertimbangkan teori berdasarkan teori lainnya. Ya, cukup masuk akal untuk mengatakan ada korelasi antara film legendaris US tahun 90an ini dengan kisah klasik zaman Dinasti Ming ini, antara Amer*can Pie dan Xi You Zi (Perjalanan ke Barat maksudnya -.-).


Hukum ketiga : Untuk setiap aksi selalu ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah: atau gaya dari dua benda pada satu sama lain selalu sama besar dan berlawanan arah.
Semua hal logis, dan cukup mudah untuk memahami secara benar dengan kerangka logika ini.

Jumat, 21 Maret 2014

Sok Suci

Kau dan aku suatu saat tidak akan menderita begini terus
Kita akan di tempat orang-orang yang menang, atau kalah
Karena bumi yang kita pijaki ini tempat menderita, tempat untuk menerima sengsara bukan bahagia





"Orang yang tidak nyontek adalah orang yang sok suci", -orang bijak


Ya, bisa jadi saya termasuk yang 'sok suci'. Saya terima, saya memang cuma sok suci, saya bukan orang suci. Implikasinya berarti selama ini saya meng-klaim diri saya tidak nyontek? Ya begitulah, 3 tahun terakhir ini memang saya berusaha untuk menunjukan saya tidak mau nyontek (walaupun prakteknya ya saya secara tidak sengaja kecipratan juga, dan kadang masih ikut juga kalau terang-terangan gurunya yang ngasih soal, ya saya salah seorang 'sok suci'-ers kelas teri wkwk)

Tapi kasih saya kesempatan untuk sedikit bela diri dari citra negatif dari si orang bijak di atas, saya mau kampanye supaya kita semua berani untuk jadi orang sok suci. Menurut saya tidak ada yang salah dari sok suci yang pada hakikatnya adalah usaha untuk menjadi lebih suci (ya bisa juga dibilang lebih baik). Resikonya memang bisa jadi kita terdengar munafik. Tapi selama pada kenyataannya tidak ada yang kita tutup-tutupi ya berarti sebenarnya kita tidak munafik, cuma mencoba menjadi orang yang lebih baik.

Oke, jangan diruwet-ruwetin, lanjut.

Sekarang saya mau kampanye untuk kita semua berani mencoba jadi sok suci dengan tidak nyontek (respon: wah gila! susah lah). Jangan dengerin respon di dalam kurung, dengerin dulu alasan saya. Ada beberapa keuntungkan yang bisa kita dapat dari tidak nyontek (ini serius). 

Satu, dengan tidak nyontek prestasi akademis anda bisa meningkat drastis (mungkin kedengerannya terlalu mengada-ada, tapi survei membuktikan anak-anak yang punya predikat 'pintar', berprestasi. atau sekarang ada di PTN favorit mungkin juga ikut memberi contekan, tapi mereka jarang mau untuk bawa kertas/buku contekan, walaupun itu bisa mendongkrak nilai mereka).

Dua, Tuhan sayang orang-orang yang sok suci. Meskipun ada 'sok'-nya, tapi sok suci ini merupakan usaha untuk menjadi berkenan pada-Nya, dan saya rasa Dia sangat menghargai usaha kita ini (ini masalah kita sama Dia, jangan dengerin kata orang-orang karena gak ada hubungannya). Keuntungannya? Gila, orang yang disayang Tuhan apa aja yang diperbuat di hidupnya pasti berhasil!

Yang kedua tadi udah kesimpulan sih sebenernya. Faktor Tuhan (ini dakwah nih, dengarin, dakwah itu baik untuk hidup), ya faktor Tuhan gak bisa disandingkan dengan faktor nyontek. Ibaratnya kalo di papan catur (gak ngerti catur, gapapa denger aja) misalnya nyontek itu Benteng yang poin-nya 5, atau Menteri yang poin-nya 10, faktor Tuhan itu adalah raja yang poinnya 200! Pernah main catur kan, tau kan kalo raja dimakan berarti kalah? Ya gitu, jangan dibandingin, terlalu jauh.

Percaya aja dah, emang ini gak logis. Minimal buat UN ini, asal mau tahu aja, mereka yang dapet PTN favorit, atau mungkin gak dapet tapi sukses pas kerja, adalah mereka yang menerapkan prinsip 'sok suci' alias 'tidak nyontek' ini. Emang gak bisa dijelasin pake logika, gak usah pake logika lah kalo ngomongin Tuhan, udah percaya aja.



Seperti Daud yang terus memuji dan menyembah-Nya
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air
yang mengasilkan buah pada musimnya, dan tidak layu daunnya
apa saja yang diperbuatnya berhasil